Hidup Lebih Tenang dengan DIGITAL MINIMALISM
Di akhir pekan, saya mengisi waktu dengan membaca Digital Minimalism karya Cal Newport. Buku ini, meski terbit pada 2019, tetap relevan di era serba cepat seperti sekarang.
Newport, seorang profesor ilmu komputer di Universitas Georgetown, mengajak kita menata ulang hubungan dengan teknologi. Ia menawarkan filosofi hidup: menggunakan teknologi dengan sadar dan terarah.
Bayangkan ruang kerja rapi tanpa notifikasi atau layar ponsel yang terus menyala. Di sanalah Newport duduk, tenang. "Kita hidup di era di mana teknologi mengendalikan kita, bukan sebaliknya," katanya.
Buku ini bukan sekadar teori, melainkan sebuah gerakan. Newport mengajak kita menyadari betapa candunya kita terhadap ponsel, media sosial, dan notifikasi tiada henti. "Teknologi dirancang untuk menarik perhatian kita selama mungkin," ujarnya. "Tapi apakah itu benar-benar membuat kita lebih bahagia?"
Jawabannya ia temukan dalam konsep digital declutter—sebuah strategi untuk merapikan kembali kehidupan digital kita dengan cara yang lebih fundamental daripada sekadar detoks digital.
Makna Digital Declutter
Berbeda dari "detoks digital" yang hanya berarti jeda sementara dari teknologi, digital declutter menekankan perubahan jangka panjang. Newport mengajak siapa pun yang ingin mencoba metode ini untuk memulai dengan sebuah langkah berani: berhenti menggunakan teknologi yang tidak esensial selama 30 hari. Selama periode ini, media sosial, aplikasi hiburan, dan kebiasaan menjelajahi internet tanpa tujuan harus dihentikan total.
Namun, digital declutter bukan sekadar menghindari teknologi. Dalam 30 hari itu, Newport mendorong setiap orang untuk menggali kembali hal-hal yang benar-benar bernilai dalam hidup mereka. Waktu yang sebelumnya dihabiskan untuk menggulir layar bisa dialihkan ke aktivitas yang lebih bermakna—membaca, menulis, berkumpul dengan teman dan keluarga, atau mengeksplorasi hobi baru yang selama ini terabaikan.
Setelah 30 hari berlalu, teknologi bisa kembali masuk ke dalam kehidupan, tetapi hanya yang benar-benar bermanfaat. Jika media sosial memang diperlukan untuk pekerjaan atau komunikasi, maka penggunaannya harus dilakukan dengan kesadaran penuh dan batasan yang jelas. Seorang desainer grafis, misalnya, mungkin tetap memanfaatkan Instagram sebagai portofolio, tetapi itu bukan alasan untuk menghabiskan berjam-jam menggulir linimasa tanpa tujuan.
Newport menemukan bahwa mereka yang menjalani digital declutter mengalami transformasi signifikan. Banyak yang melaporkan bahwa mereka merasa lebih fokus, lebih tenang, dan lebih puas dengan hidup mereka. Seorang eksekutif muda di Silicon Valley, misalnya, awalnya ragu bisa hidup tanpa media sosial. "Setelah sebulan, saya menyadari Instagram atau Twitter sama sekali tidak penting bagi pekerjaan saya," ungkapnya.
Teknologi dan Dampaknya pada Otak
Pandangan Newport ini sejalan dengan gagasan Nicholas Carr dalam The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. Carr berpendapat bahwa internet telah mengubah cara kita berpikir. Kita menjadi lebih dangkal, mudah teralihkan, dan kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi dalam jangka waktu lama.
Menurut Carr, otak manusia bersifat plastis—ia berubah sesuai dengan kebiasaan kita. Ketika kita terus-menerus berpindah dari satu notifikasi ke notifikasi lain, dari satu tautan ke tautan berikutnya, otak kita beradaptasi dengan pola pikir yang dangkal. "Semakin sering kita mengandalkan internet, semakin sulit bagi kita untuk berpikir mendalam," tulisnya.
Data menunjukkan bahwa generasi saat ini menghabiskan banyak waktu online. Survei Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Katadata Insight Center (KIC) pada 2022 mencatat mayoritas responden Gen Z (35%) dan Gen Y (26%) menggunakan internet lebih dari 6 jam per hari. Sementara itu, Gen X dan Boomers yang mengakses internet lebih dari 6 jam per hari hanya 19%. (databoks.katadata.co.id)
Waktu yang begitu lama di dunia digital sering kali mengorbankan kegiatan yang lebih bernilai. Dalam Digital Minimalism, Newport menunjukkan bahwa mereka yang melakukan digital declutter sering kali menemukan kembali hobi yang telah lama terlupakan—melukis, bermain musik, menulis, atau bahkan sekadar berjalan-jalan di taman tanpa harus menggenggam ponsel.
Mengambil Kendali atas Teknologi
Bagi Newport, kunci dari digital minimalism adalah mengambil kembali kendali atas hidup kita. Ia menganjurkan lebih banyak aktivitas dunia nyata—berjalan kaki, membaca buku, atau sekadar berbincang tanpa gangguan layar.
Saya memikirkan gagasan ini saat meletakkan ponsel dan membiarkan akhir pekan berlalu tanpa interupsi digital. Mungkin inilah yang dimaksud Newport dan Carr: hidup yang lebih tenang bukan soal menyingkirkan teknologi, tetapi menggunakannya dengan bijak, agar kita bisa kembali berpikir lebih dalam dan menikmati hidup sepenuhnya.
"Pada akhirnya," kata Newport dengan senyum, "teknologi seharusnya bekerja untuk kita, bukan sebaliknya."