Pusar Perahu Buton dalam Tinjauan Antropolog Australia
Malam itu, langit di Samudra Pasifik begitu kelam. Ombak menggulung tinggi, angin menerjang layar, dan sebuah perahu kayu kecil terombang-ambing di tengah laut lepas.
Di atasnya, seorang nelayan Buton menggenggam erat kemudi, berharap bisa menemukan arah pulang. Namun, takdir berkata lain. Kapalnya terdampar di sebuah pulau asing, jauh dari perairan Nusantara.
Kisah seperti ini bukan hal baru bagi masyarakat Buton. Selama berabad-abad, para pelaut dari Sulawesi Tenggara telah dikenal sebagai pengembara ulung. Mereka menjelajah lautan hingga ke Filipina, Australia, bahkan Kepulauan Pasifik. Bagi mereka, laut bukan sekadar ruang terbuka yang memisahkan daratan, tetapi juga jalan hidup, penghubung, dan sumber penghidupan.
Namun, bagi Michael Southon, seorang antropolog asal Australia, perahu Buton bukan hanya soal navigasi dan perdagangan. Ia melihatnya sebagai cerminan identitas, spiritualitas, dan struktur sosial masyarakat maritim.
Southon, yang lahir pada tahun 1958, merupakan peneliti yang mendalami budaya pesisir Indonesia. Karyanya yang paling dikenal adalah The Navel of the Perahu: Meaning and Values in the Maritime Trading Economy of a Butonese Village (1995), yang diterbitkan oleh Australian National University. Buku ini bukan sekadar dokumentasi akademik, tetapi juga kisah tentang bagaimana sebuah tradisi yang telah bertahan selama berabad-abad kini berada di persimpangan jalan.
Pusar Perahu: Titik Keseimbangan di Lautan
Dalam tubuh manusia, pusar mengacu pada bekas tali plasenta di perut, yang selama dalam kandungan menjadi penghubung utama untuk mendapatkan asupan makanan dari ibu. Ia adalah titik pusat yang menghubungkan manusia dengan sumber kehidupannya.
Dalam budaya Buton, konsep yang sama diterapkan pada perahu. Pusar perahu (navel of the perahu) adalah bagian tengah kapal yang dianggap sebagai pusat keseimbangan, tempat di mana semua kekuatan bertemu, menjaga harmoni antara manusia, laut, dan dunia spiritual. Jika bagian ini tidak dibuat dengan benar atau tidak dihormati, perahu diyakini akan kehilangan keseimbangannya, baik secara fisik di laut maupun dalam kehidupan pemiliknya.
Southon mencatat bahwa kepercayaan ini bukan sekadar takhayul, melainkan refleksi dari cara masyarakat Buton memahami keterhubungan antara manusia dan alam. Mereka memandang lautan bukan hanya sebagai jalur perdagangan, tetapi sebagai ruang hidup yang memiliki aturan dan keseimbangan tersendiri.
"Perahu dalam masyarakat Buton bukan hanya alat," ujar Southon dalam wawancara yang dikutip dalam bukunya. "Ia adalah cerminan dari struktur sosial dan spiritual mereka."
Ekonomi Maritim dan Struktur Sosial
Tak hanya soal kepercayaan dan filosofi, perahu juga mencerminkan tatanan sosial masyarakat Buton. Southon mencatat bagaimana struktur sosial mereka terbentuk berdasarkan hubungan dengan laut.
Kaum Kaomu—aristokrat Buton—mengendalikan kebijakan dan memiliki pengaruh besar dalam perdagangan. Kelompok Walaka berperan dalam hukum adat, memastikan keseimbangan sosial tetap terjaga.
Sementara itu, rakyat biasa, atau Papara, menjadi nelayan, pembuat kapal, dan pedagang kecil yang menggerakkan roda ekonomi.
Selama berabad-abad, sistem ini berjalan tanpa hambatan berarti. Hubungan dagang mereka dengan dunia luar tidak bergantung pada kontrak tertulis, melainkan pada kepercayaan dan kesepakatan lisan yang dijunjung tinggi. Namun, zaman berubah.
"Dulu, perdagangan mereka bergantung pada hubungan personal dan kepercayaan," kata Southon."Sekarang, sistem ekonomi global memaksa mereka untuk beradaptasi dengan aturan baru yang lebih formal dan kompetitif."
Anak-anak muda yang dahulu belajar membaca bintang untuk menavigasi laut, kini lebih memilih bekerja di sektor industri atau pariwisata. Tradisi pembuatan perahu kayu perlahan ditinggalkan, tergantikan oleh kapal bermesin yang lebih cepat dan efisien.
Gelombang Modernisasi dan Pudarnya Tradisi
Pergeseran ini semakin terasa ketika sistem pendidikan modern menggantikan cara belajar tradisional. Bahasa, nilai-nilai leluhur, dan bahkan ritual adat yang dulu mengiringi pembuatan perahu mulai menghilang.
"Generasi muda lebih memilih bekerja di kota atau menjadi TKI di luar negeri," ujar seorang tetua adat Buton dalam wawancara dengan Southon. "Mereka merasa kehidupan di laut terlalu berat dan tidak menjanjikan."
Meski demikian, sisa-sisa tradisi masih bertahan. Upacara adat seperti Posuo—ritual kedewasaan bagi perempuan Buton—masih dilaksanakan, meski tak seramai dulu. Begitu pula dengan sekelompok nelayan tua yang tetap setia berlayar dengan perahu kayu, menjaga warisan nenek moyang mereka di tengah derasnya perubahan.
Antara Warisan dan Masa Depan
Kini, pertanyaan besar yang muncul adalah: Akankah tradisi maritim Buton bertahan di tengah derasnya arus modernisasi? Apakah perahu akan tetap menjadi simbol identitas mereka, atau hanya akan tinggal sebagai catatan dalam buku sejarah?
Southon tidak menawarkan jawaban pasti, tetapi ia memberikan refleksi menarik. "Perubahan adalah keniscayaan," tulisnya. "Tapi itu tidak berarti identitas harus hilang. Masyarakat Buton perlu menemukan cara untuk mengadaptasi warisan mereka ke dalam dunia modern."
Di satu sisi, modernisasi membawa peluang baru—pendidikan, teknologi, dan akses global. Namun, di sisi lain, ia juga membawa tantangan besar: bagaimana menjaga agar warisan budaya tetap hidup di tengah arus perubahan?
Di pesisir Buton, angin laut masih berhembus kencang, ombak masih bergulung, dan beberapa perahu kayu masih setia berlayar. Namun, pertanyaannya tetap sama: Apakah pusar perahu yang selama ini menjadi pusat keseimbangan masyarakat Buton akan tetap kokoh, atau akan karam dalam gelombang zaman?