Komang: Cinta yang Sederhana, Tapi Sampai
Di dunia yang sering kali terburu-buru, film Komang datang seperti bisikan pelan dari sudut yang jarang kita tengok. Ia tidak menjerit. Tidak memaksa kita untuk menangis. Tapi justru karena itulah ia terasa begitu dekat—seperti kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Saya duduk di kursi bioskop tanpa ekspektasi apa-apa, hanya ingin menikmati kisah cinta dua anak muda. Tapi yang saya temukan adalah sesuatu yang lebih dalam dari sekadar asmara.
Saya menemukan harapan yang tumbuh perlahan, ketulusan yang terjaga dalam diam, dan cinta yang tak hanya indah karena akhirnya, tapi juga karena cara keduanya saling menjaga di sepanjang perjalanan.
Komang adalah cerita tentang pertemuan. Tentang Ode, pemuda dari Buton yang memeluk mimpi di dunia musik dan stand-up comedy. Tentang Komang, gadis Bali dari keluarga transmigran yang tumbuh dengan nilai-nilai spiritual dan budaya yang kuat.
Mereka bertemu di Baubau, sebuah kota kecil yang jadi latar cinta mereka—dan juga saksi dari perjalanan mereka memperjuangkan cinta yang tak sederhana.
Dan bagi saya, film ini lebih dari sekadar kisah cinta. Komang adalah jendela yang menghangatkan hati tentang kota tempat saya tumbuh dan membesar: Baubau. Sepanjang film, hati saya terasa hangat sebab banyak sekali pertautan dengan ruang-ruang yang hadir di layar.
Saya merindukan Pantai Nirwana dengan pasir putihnya yang lembut, Pantai Lakeba yang selalu ramai di sore hari, Benteng Keraton dengan sejarah yang diam di balik tembok batu, dan kawasan Batusori yang menyimpan banyak cerita. Film ini seperti pulang secara perlahan—melalui gambar, suara, dan kenangan.
Film ini membuat saya tersadar, betapa banyak hal-hal sederhana, yang jika dikemas dengan baik akan terlihat indah. Selama ini saya selalu melintas di lokasi-lokasi yang jadi tempat syuting film ini. Semua terlihat biasa, tapi ketika dikemas dengan sudut pandang orang luar, semuanya terasa wow.
Namun, yang membuat Komang berbeda dari film romansa kebanyakan adalah satu nama: Raim La Ode. Ia tidak sekadar menulis lagu yang menjadi inspirasi film ini. Raim adalah nyawa dari kisah ini.
Dalam Ode, saya melihat refleksi dirinya: romantis, jenaka, dan penuh taburan kata-kata yang menyentuh. Tapi juga keras kepala dengan cara yang manis.
Ode bukan tipe pemberontak. Ia tidak melawan dunia dengan amarah, tapi dengan keyakinan yang lembut bahwa cintanya pantas diperjuangkan. Ada kenekadan khas anak muda dalam dirinya—yang membuat kita, sebagai penonton, ingin sekali membelanya.
Raim, lewat Ode, berhasil menyisipkan sisi liris dalam film ini. Kata-kata sederhana yang ia tulis menjadi jembatan antara tawa dan air mata. Ia tidak hanya menciptakan cerita; ia menghidupkan rasa.
Setiap bait dalam lagu Komang terasa seperti bisikan hati yang tak sempat diucapkan. Setiap adegan seolah lahir dari pengalaman yang sungguh pernah dirasakan.
Apa yang membuat cinta Ode dan Komang begitu menyentuh bukanlah janji-janji besar, tapi justru kesederhanaannya. Film ini tidak mencari akhir yang sempurna, melainkan menunjukkan proses mencintai dengan segala luka dan komprominya.
Dan mungkin, di situlah kita semua menemukan diri kita.
Komang bukan hanya film tentang dua anak muda yang jatuh cinta. Ia adalah kisah tentang kita semua—yang pernah mencintai, pernah ragu, pernah hampir menyerah, tapi pada akhirnya memilih untuk tetap bertahan.
Saya keluar dari bioskop dengan hati penuh. Dan untuk waktu yang lama setelahnya, saya masih menyenandungkan lagu itu dalam hati. Lagu tentang seorang gadis bernama Komang. Lagu tentang cinta yang diuji, tapi tak runtuh.
“Sebab kau terlalu indah dari sekadar kata. Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu.”
Lirik itu seperti doa yang tak selesai. Ia tidak berbicara tentang memiliki, tapi tentang mengagumi. Tentang bagaimana seseorang bisa begitu mencintai tanpa harus menggenggam. Tentang betapa hadirnya seseorang bisa membuat dunia terasa lebih lambat, lebih sunyi, lebih berarti—meski hanya sesaat. Sebab ada cinta yang diperjuangkan bukan dengan teriak, tapi dengan ketulusan yang tak tergoyahkan.
Dan mungkin itulah cinta yang paling kuat: cinta yang tidak mudah, tapi berhasil sampai.